Langsung ke konten utama

Menanti tanya

Tengah berada di titik goyah. Bukan karena tak yakin, tapi lebih kepada merasa kurang aman dengan posisi saat ini. Rasanya mau terusik tapi belum memiliki kepastian. Bukankah sejak awal sudah dimaktubkan bahwasannya kita tak hendak menjadi penghalang bagi yang ter-tepat untuk satu sama lain, apabila kita tak sejalan? 

Lalu saat terlintas ingin berbagi keluh kesah, hendak meminjam waktu, sebagian memori, dan telinga sang penanti, dia kini mulai memasang pagar-pagar tinggi melingkupi dirinya sekeliling. Masih disisakannya celah terbuka di gerbang, namun langkahku urung tergerakkan. Katanya, boleh, saat ku izin meminjam semua dari nya yang ia punya, waktu, memori, dan telinga. Tapi, hanya sampai tiba saatnya salah satu diantara kita saling menemukan tempat berlabuh. Karena jika saat itu tiba, tak elok pabila kita masih menjadi yang saling menanti dan menyediakan. Menanti kabar dan cerita, menyediakan waktu untyk mendengarkan. Bukankah sudah ada tempat berlabuh, tempat semuanya harus tercurah? Hingga saat itu tiba, lanjutnya pula, maka jadikan saja halaman ini sebagai draft tulis mu yang baru. Semoga kelak, kamu temukan yang mampu memberimu aku. 

Dan seperti tersadar, adakah aku yang sesungguhnya tengah berpaling? 
Adakah aku yang tak mampu mengimbangi? 
Adakah aku yang ternyata berharap lain dan bersikeras mengubah?

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...