Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label poems

Serangkum kisah

Setelah sekian waktu berusaha keras untuk menutup paksa sebuah kisah, Aku disini, selesai menyusut sisa tangis 2jam lalu. Selesai melipat kembali sajadah dan mukena putih, lalu menghampar di lantai. Menopangkan punggung pada pinggiran kasur, menaikkan volume musik agar kamar terasa sedikit berisik, cukup untuk meredam sedu sedan, dan menyiapkan segelas tinggi air putih, berjaga barangkali kerongkongan ku perih menelan dalam-dalam serak tangis dan suara teriak tertahan. Maka, ku mulai menulis kisah lalu itu di lembar ini. ... Lepas dari aku menamai perjalanan itu sebagai sebuah perpisahan, lepas dari aku mengetahui siapa yang tengah ku temani, lepas dari aku mengakui bahwa aku tengah mengagumi, lepas dari aku memberikan petunjuk pada rasa kagum itu, dan tak berbalas Aku telah mundur, semata karena tidak ingin berjuang di medan yang salah, sesederhana karena mengumpamakan jika aku ada di posisi wanitanya , seyakin-yakinnya telah salah tempat Seolah paham, atau barangk...

pamit

Dalam fantasi ku, kau bersemayam. Tersenyum hangat ke arahku Dalam imaji paling liar ku, kau tengah bersanding dengan cincin melingkar menghias jari manis, kopiah merah khas baju adat minang membalut tubuhmu yang tak begitu berisi. Baik keduanya, wajahmu tetap berbingkai senyum. Deret gigimu semakin banyak kau tunjukkan selang berganti tamu yang datang. Entah senyum itu untukku atau bukan, aku bahagia. Aku yakin kau pun sama. Entah kau sadar atau tidak, aku hadir. Bermaksud mengucap salam perpisahan yang paling akhir. Barangkali hanya kucing dapur yang terusik akan datangku tadi, ditambah seorang bayi laki-laki, keponakanmu yang seketika menangis histeris. Selainnya tak ada. Kau bahkan tak lagi acuh saat sekian banyak orang dengan santainya menghadangku, berlalu melewatiku. Senyum mu masih tak jua luntur. Barangkali hanya temannya kucing dapur yang tak sengaja lewat, terkejut lalu mengibas ekor yang tau hadirku tadi. Ditambah seorang ibu hamil yang terkesiap saat ku beranjak pe...

jika tanya aku

Lalu, apa kau merindu? jika tanya aku, maka jawabnya adalah ya. meski hingga saat ini rasa rindu itu belum mampu runtuhkan ego ku tapi sudah kuakui ini rindu. berat, maka cukup aku saja yang rasakan Lantas, tidak inginkah kamu menyerah? atau, apa semua obrolan kita lima tahun itu sudah sepenuhnya menguap? jika tanya aku, maka jawabnya adalah tidak. dan tidak akan. meski masih saja berlindung dibalik tameng sahabat saling membersamai di banyak malam setelah hari-hari yang panjang menyamakan langkah saat mulai meniti jembatan asa masing-masing mendoakan dan melihat dari jauh adalah beberapa hal bahagia untuk terus dilakukan bahagia ketika dilakukan bersama hampa saat sendiri Jadi, tidak bisakah kau menghentikan aksi diam kita ini?

sebuah tanya; dua pilihan?

Mengapa sulit sekali menangkap maksud sikapmu? Pandanganmu yang tidak pernah terarah pada setiap jalan yang ku lalui, namun mampu membuat udaraku terasa sengit Kau kah yang menatap? Jauh, tajam. Menghunus pada setiap kumbang, kunang, dan pakis liar. Hanya aku kah yang merasa hadirmu? Atau memang benar engkau hadir dalam waktu ku? Boleh kah aku segera tau? Atau cukupkah untukmu menatap sisa jejak langkahku yang pergi meninggalkan laman ini?

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

seru sarat rindu

allahuakbar allahuakbar allahuakbar laa ilaa haillallah huallahuakbar allahuakbar walilla ilham sayup sayup kudengar kumandang takbir. tak seberapa waktu yang lalu serombongan bocah-bocah melewati gang sempit kos kos an dengan riuh bedug dan gendang. ibuk kos yang tengah sibuk membersihkan dandang di dapur setelah menanak ketupat. ah, esok Idul Adha kembali datang. aku yang masih berada di pulau Jawa, tengah berebut tempat menyusun mimpi mimpi lama, jauh dari rumah. adikku, mungkin kini tengah sibuk mengumandangkan takbir dari mesjid pesantren diselimuti hawa dingin padangpanjang. jauh dari rumah. beberapa jam yang lalu papa menelpon. mengabari, mama yang tengah memasak rendang dan oseng tempe untuk dipaketkan ke bandung dan padangpanjang. bercerita tentang bibik, nenek dan uwak yang pulang ke benakat. seru sekali mendengarnya. seru yang sarat rindu. bilakah kita berkumpul berkurban bersama? bukan sekedar kurban waktu dan perasaan. seru sarat rindu garis garis wajahmu tak lag...

Layangan : tarik ulur

ku ambil buluh sebatang   ku potong sama panjang   ku raut dan kutimbang dengan benang   kujadikan layang-layang "Ayo!" Lincah gerak kaki mu diantara rumput hijau menarik segulung benang yang bertumpuk pada kaleng bekas sarden Kamu tersenyum semilir angin menggoyang anak rambut sekali dua kamu sibuk merapihkan "potong rambut makanya!" ujarku yang kamu balas cengiran tak berdosa, aku-belum-menemukan-pangkas-rambut-yang-sesuai, kira-kira begitu arti cengiran itu Kita sudah mencapai bukit landai matahari cerah, tak begitu terik angin berhembus syahdu katamu, ini waktu yang tepat menerbangkan layangan. Lantas sibuk menggedor pintu kamarku dan memastikan tidak ada agenda lain selain menerbangkan layangan ini bersamamu. "tunggu disini!"  suaramu nyaris hilang ditelan keseriusan pada benang dan layangan aku menurut, duduk manis dibawah pohon cemara bermain... berlari...   bermain layang-layang musim-musim ini, angin berhembus baik sepa...

sebuah pelabuhan -syahbandar-

no caption needed.

Pilu

Kepada siapa harus kutuangkan Rindu yang tak terucap Sedih berkepanjangan Malam pun sudah tak tega menemani bulan Kepada pagi kah harus ku utarakan? Yang dinginnya pun dihapuskan mentari Dan lantas ditinggal pergi saat mega menghambur Lalu kepada siapa bisa kuadukan Kata-kata tak bermuara Kasih tak terlukis Adakah tebing disana masih cukup kokoh bertahan Mendengar isak tertahan? Adakah ngarai disana masih cukup menampung Pilu nya embun diuapkan waktu? Pantaskah tersampaikan? 22 April 2014 08:31

melepaskan

Apa yang kamu harapkan untuk kukatakan saat kamu memilih untuk pergi? Menahanmu dengan kalimat maaf serta pengharapan? Menahanmu dengan tangis tertahan? Menahanmu dengan keyakinan memperbaiki semua dari awal? Tidak. Aku hanya diam, menghela napas lirih Mengatakan, "ya sudah, kita selesai" Bukankah hakikat mencintai adalah melepaskan? 25 April 2014 22:13 Ga sengaja nemuin sebuah folder yang hilang. Isinya banyak puisi, cerpen, curhatan dari jaman dulu sampai tahun 2014 kemarin. Kirain habis benerin notebook semuanya ilang ternyata masih ada. Ada beberapa tulisan yang lucu, dari yang romantis, penuh gombalan sampai yang sendu, sinis, dan penuh rasa kecewa. Menuliskan ulang ini kembali, kali ini bukan karena baper gara-gara bubar tanpa pernah mengerti alasan bubar nya kenapa loh, tapi karena ketika ngebaca ulang rangkaian kalimatnya, z suka dengan susunan kata. Ini udah lama banget dan bisa dipastikan z udah get over sepenuhnya kok. Hahhaha Anw, ngebaca ini jad...

dalam Kedalaman

Seumpama jawab yang tengah dicari Belum kan berubah hingga nanti. Laut ku tak sediakan angin yang tenang Tak pula ombak pelan Arus nya tak berima Tak akan mampu kau temui penunjuk arah yang tepat Di laut ku Air-air tak mengalir Hingga tak kau sua arah utara, Kedalamannya dari peluh langit, yang ku peluk satu-satu Bila tiba matahari terik berkepanjangan, menyusut pula laut ku Sekali dua kedalamannya naik dari mata air di dasar Bagaimana mungkin nakhoda sanggup berletih payah membuang sauh? Jangan berharap lumba-lumba menari cantik, melihat ikan saja sudah bersyukur Laut ku penuh karang tajam Dipagari tebing-tebing curam Terpinggirkan dari peradaban Nakhoda paling bodoh sekalipun tak akan ingin mati sia-sia tanpa pengharapan Ah benar, laut ku tak berikan harapan Jangan pikir akan menuai meski menyemai petang pagi Di laut ku, di kedalamannya yang tak tersentuh, di sudut-sudut kelam itu, hati ku naik tahta Bersinggasana terumbu bermahkota mutiara Indah tertutup. Ra...

berlayar

Dapat kularikan kemana Secarik lagu Nadanya ditempias malu Sayup timbul dikalahkan desau angin dua pagi Sabtu Penat sudah mengayuh Pandang dermaga tak kunjung utuh Putih mata berselaput bening Nanar tatap cuaca genting Lalu datang bertalu ombak menderu Awal satu-satu Bersambung Berlagu Gamang, oleng pula pegang kemudi

Tudung malu

 G adalah Aku yang tengah merindu, menyergap kamu hinggap lalu sudikah penuhi pintaku? bertandang saja lah di mimpiku! jangan di hari ku 29/12/2014 00:38 sudahkah kamu tau? ah, rinduku ditudung malu  

Sajak-sajak singkat

G (I) aku fikir diam telah banyak memendekkan jarak, ternyata itu adalah bahasanya. kabar baiknya, kita mengerti. sejauh ini (II) ruang kita adalah jarak, bahasanya diam. hebatnya, saling mengerti lewat satu-dua kata dan tanda senyum. bahkan senyumpun lewat titik dua kurung! (III) cukup mengerti, kata-kata itu aku dan kalimat ini kita. selalu begitu, bercerita dalam diam.  (IV) kenapa? ada yang berubah pada sikapku? coba lihat lagi hatimu, barangkali jawabannya sudah ada disana.  (V) purnama kedua akan segera terlewati. terimakasih pada setiap detik yang mengaduk dan membolak-balik perasaan kita. terimakasih karena masih bertahan memegang kemudi.  (VI) tidak peduli apakah kamu jauh atau dekat, terlihat jauh ataupun terlihat dekat. kamu sudah punya halaman sendiri. sekarang atau esok lusa, meski keadaan sudah berbeda kamu tetap apa yang selalu aku baca  (VII) seringkali bagiku kau layaknya hujan. turun sedikit menyejukkan atau deras...

kepada Cah: cermin

G kepada malam aku tergugu, seharusnya aku mencari. menemukannya terlebih dahulu. sebelum kata itu terucap. kepada waktu aku terhempas menatap pias pada baris kalimat yang masih saja sibuk menyebut kisah paragraf masa lalu, sedang kamu tak pernah bergeming dari cermin. seringan apa aku bisa memaki? hanya akan mencabik pada diri, dan kamu, yang tak akan berpaling dari cermin. mestinya aku hantarkan kepingan mawar hitam ditali-pitakan seekor tikus mati ke teras kamar mu atau menampar wajahmu di depan cermin, Cah sebagai pelunasan untuk pelarian pada hati yang dulu susah payah melupakanmu dan kau tarik kembali dan kini kau lepas lalu berusaha kau hapus dengan keluhan cengengmu pada cermin meminta kembali pada masa lalu, sebelum aku. bodohnya yang aku lakukan hanya diam. tetap saja menatap di kejauhan memastikan apakah baik-baik saja disana bahkan tidak mengutuki hadirmu, meski sepintas lalu. dewi kah aku? seharusnya kau, tidak memanfaatkan aku dalam usaha...

Kamu harus lupa

G kamu yang pernah menggenggam sembari memayung di kala hujan katakanlah aku, yang seluruh kata-katanya telah terenggut lewat jemarimu. Kelu katamu, "hujan telah reda" tidak ada keterangan tanggal kapan tulisan ini di posting di tumblr