Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Mohon Bantuannya

Jadi guys, aku ga paham ternyata ada satu dua orang yang mengunjungi blog ini. Yah semoga mereka mengunjungi memang ngedapetin manfaat atau paling ngga ngerasa terhibur lah baca curhatan-curhatanku disini. Nah karena backgroundku economics khususnya lagi akuntansi jadi aku mohon izin dan bantuan buat masang iklan di web ya..... Jadi, ternyata di blogger itu mereka menyediakan kesempatan buat kita bisa bisnis. Simple sistemnya kaya  gini, aku masang iklan di blog terus kalian nge klik iklan aku. Sekali nya kalian nge klik, nanti aku dapet uang senominal yang aku rencanain. Nah kalau kalian punya blog juga silahkan langsung chat aku, tuuh aku udah nambahin widget baru kan? wqwqwq Btw ini buat yang mau ikutan masang iklan juga,  klik disini . Nah udah, mau buru-buru ke bip biar cepet tidur. Makasih banyak yaaa yang udah bantuiiinnnn.... luvvv, kalau kalian pakai KlickAdwords juga dan mau ku bantuin, chat ajaaaaa ;') so much luv, zia

Bulan Purnama (kupu-kupu dalam perut)

Bulan Purnama (kupu-kupu dalam perut) sebuah cerpen Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, kepadamu pantai di empat purnama lautku. Ingin menanyakan kabar, sedang apa, apa yang kamu pikirkan dan seterusnya. Namun seringkali saat waktu mengizinkan kita bersisian semua kalimat itu retas bermain dengan jarum jam. Jangan tanya kenapa. Haruskah aku mulai dengan tanya, "haruskah kita selesai? " yang sayangnya selalu berhasil kamu jegal disetiap kesempatan. Dan selanjutnya jeda waktu diambil alih oleh denting sendok yang terus aku putarkan, mengitari gelas dengan tiga per empat moccachino larut di dalamnya. Kamu mengimbangi irama dengan ketukan jari di gadget, selalu seperti itu. Disibukkan dengan banyak pesan yang harus kamu respon. Paling tidak kita mengerti ada yang risau. Aku dengan tanyaku dan kamu dengan putusanmu. "sering ngopi disini Lan?" tanyamu berusaha memecah jeda hening di meja kita. Aku mengitari ruangan ini dengan pandangan lekat...

Roller coaster -ditulis sebagai sebuah cerpen-

Roller coaster beberapa kondisi yang membuat kita saling mendengar suara satu sama lain : aku sakit kamu sakit mengevaluasi apa yang sudah terlalui siang ini, poin ketiga membuat kita menikmati lebih dari 60menit dengan hp di telinga. bercerita dan diceritakan tentang apapun. menanyakan kabar , mendengarkan suara serak yang saat aku tanya "lagi flu ?" kamu mengelak, padahal sibuk tiap sebentar menghela pilek. saling melempar tanya "berapa IP kemarin?", "apa maksudnya mawar hitam ditulisan mu?, “cerita apa aja ke mama?”, “siapa aja yang tau tentang ini?” menjadi semacam bermain roaller coaster kata-kata. dimana ada saatnya mendaki ketinggian perlahan dan penuh ketegangan, lantas meluncur dengan kecepatan tinggi dan penuh euforia . berteriak, tertawa bercampur takut dan puas. sesaat menuju puncak, kamu bertanya, "dari sejak terakhir kali ke Bandung sampai sekarang apa yang kamu ngga suka?" aku diam. mengalihkan ke banyak hal lain m...

Mengetuk pintu Langit (bagian 1)

I (satu) Ratih :   Kau siapa? Meneliti anggun dalam diam. Kau kira Aku apa? Kepompong mati di sarang burung? Bahkan jika aku kepompong yang nyaris mati di sarang burung Kau tidak lantas seinci lebih baik dari Aku, karena Kau tak lebih dari bau bangkai tikus mati! Tentu, banyak orang berlalu lalang sadar akan hadirmu, mencium bau busuk. Tapi tak akan ada yang sudi menyeret langkah meski hanya sejengkal mendekatimu. Dewa : Aku? Bau bangkai tikus mati? Cih! Apa Kau bilang tadi? Tak ada satu orang pun yang sudi mendekatiku? Bodoh. Kau pikir bagaimana menyingkirkan bau ku kalaulah tidak dengan mendekati aku? Mereka justru harus mendekatiku, berlutut, pelan penuh kehati-hatian agar tidak setitik pun darah tikus mati mengenai lengan baju mereka. Kau tau, bahkan hanya untuk sekedar menyingkirkan bau busuk, mereka, orang-orang ber pantofel, mengenakan tuksedo rela bersusah payah mendekati aku. Sementara Kau? Apa? Kau hanyalah kepompong mati di sarang burung. Tak pernah menjadi hal pe...