Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label monolog

Teman baik, doa baik, yang terbaik.

Ceritanya ini mau sedikit berkeluh kesah. Tentang hubungan mama dan teman baik z.  Jadi z punya teman baik, anaknya santun, selama z kenal dia ibadahnya baik, ngobrolnya nyambung dan pernah menjadi yang z doakan dengan sangat baik. Pernah.  Lalu setelah banyak malam dengan doa-doa terbaik itu dilewati, komunikasi kita berjalan baik, dia mengenal mama dengan cukup akrab juga, kita berhadapan pada beberapa hal prinsip yang ternyata kurang sejalan. Dia tetap menjadi teman baik z yang santun, dan menjadi anak yang mama senangi juga, tapi sudah tidak lagi menjadi yang didoakan dengan sangat baik seperti sebelumnya di malam-malam yang z lewati setelah menyadari beberapa hal prinsip kita ternyata tidak sejalan.  Nah, penyakit hati z muncul beberapa waktu belakangan. Ketika z mulai mendoakan yang lain dengan baik pula. Dia, tetap menjadi teman baik yang z doakan dengan baik pula. Tapi tentu konteks doa nya sudah tak lagi sama. Penyakit hati z muncul ketika mama seola...

fakir afeksi

Kuingin memulai tulisan kali ini dengan hawa agak panas dan sebel, maafkan 😔 Yaaa ku paham sih kadang sesekali kita menikmati diperhatikan oleh orang lain disekitar kita. Lalu karena ingin diperlakukan dengan agak manis sesekali kita memancing orang lain untuk tau keadaan kita dengan harapan mereka bisa memberikan afeksi yang tengah kita butuhkan. Tapi keadaan jadi agak malesin kalau kamu di posisi yang you have someone or some peops who can give you affection that you needddddd....... Kamu punya mamak/ibuk/bunda/ummi kamu punya abah/bapak/ayah/papa kamu punya kakak/mba/teteh/mas/abang/adik terlebih kalau kamu punya +1 tunangan/istri/suamik/ your spouse why oh why dude masih pamer ke khalayak ramai kalau kamu bete, kesal sama dunia, lagi meriang dikit... sadar ngga yang ngebikin gedheg nya dimana? di bagian kamu tuh udah ngadu-ngadu, terus udah diperhatiin, tapi tetap masih nyari perhatian lagi dengan pamer ke seisi dunia gimana kondisi kamu sekarang. kamu teh sebenernya lag...

cheessy bites: Mas (part: 2)

Mau nulis yang agak cheesy, maafkan 😅 dan harap maklum ya.  Jadi ceritanya hari ini mood swingnya zia berulah lagi (iya salahin aja mood swing nya teroosss 😅). Sesore tadi bete garagara laper (tuhkan!) terus pulangnya telat. Yang bikin sebel adalah pulang dari kantor nya biasa aja, ga gitu telat, udah nyampe komplek perumahan juga dari jam 5an eh tapi mampir-mampir jajan dulu mas mba nya. Sebenernya biasa ajasih, toh tiap hari juga gitu. Malah kadang z ikutan jajan juga, ehtapiii karena mungkin tadi sore kelaperan tapi gamau jajan, mau nya masak dikosan, dan kebetulan banget sore ini mas mba jajan nya superr lama, akhirnya jadi bete. Lalu randomtalk sama mas nya, ngadu dengan intinya, "kenapa yaa kok ternyata z semenyebalkan itu? Makin kesini kok ya makin keliatan sifat nyebelin nya.." Terus curhatannya diikuti dengan sederet sifat jeleknya z yang z sadari dengan persis kalau sifat itu menyebalkan. Terus ditutup dengan kalimat sedih karena khawatir orang-oran...

Weekend well spend, side story: Mas [part 1]

Hallooww!  Finally, after 2weeks over load beban kerjaan (lebaayy) dan stress akhirnya ku menikmati oase liburan sekejap and here i am, fully recharged ! Thanks to mama Shinchan yang memberiku waktu 2hours straight dengerin semua curhatan, keluh kesah dan dosa-dosa selama ngerjain kerjaan sebulan ini. Hari Jumat yang lalu, Jumat Agung bagi yang merayakan, yang sedianya tanggal merah di kalender nasional Indonesia, z masuk kerja. Tapi seperti yang sudah-sudah, pulang sekali sebulan ke Subang, meskipun kerja lalu pulangnya sore, selama disisipi dengan quality time sama babeh aka mama Shinchan yang hobi nya ngejitak mah, ga masalah. Seneng-seneng ajaa, bonus kalau pulang kerja nya dijemput Mas juga 😄 Bahagiaku receh, iya.  Alhamdulillahnya, pilihanku untuk tandatangan kontrak MT dengan alasan utamanya, akan bekerja dengan manajernya adalah mama Shinchan yang sudah berhasil memberi first impression yang menarik dan menantang untukku, ternyata ga salah. Beliau sejauh ...

kata Zia tentang relesyensyip 1.

Kebiasaan kurang baik yang tidak perlu diikuti, disaat lelah-lelahnya ngerjain quotation, jenuh, stress sendiri dengan data yang revisi atau update tanpa kita tahu kapan akan finalnya, melipir sejenak ke medsos. Dulu, beberapa waktu yang lalu, ketika tumblr belum diblok, disana tempat pelarian paling nyaman dan berfaedah. Mendinginkan kepala yang disesaki dengan hitungan, analisa, rumus, due date dan sebangsanya. Namun belakangan, kembali menelusuri laman explore instagram menjadi sebuah pilihan utama. Meskipun tidak seberfaedah tumblr, tapi kalau lagi beruntung, ketemunya yang bisa cukup menghibur kok.  Kali ini nemu nya yang ngebikin mengernyitkan dahi. It's about relationship.  Ngobrolin, eh nulisin masalah relationship, dalam kamus z sesederhana hitam dan putih. Iya dan tidak. Kalau iya ya iya, kalau ngga ya ngga. Z tidak mengenal abu-abu. Karena urusan perasaan, hitam dan putih saja sudah mampu ngebikin capek, apalagi kalau harus ditambah dengan yang tidak jelas....

Aku dalam bentuk orang ketiga.

Kali ini "aku" akan membahas tentang, Bagaimana menangani mood Zia yang sedang kurang baik. Pastikan dia tidak dalam kondisi lapar, karena biasanya perubahan mood nya sesederhana karena dia lupa makan, lupa kalau tadi sudah lapar dan belum makan. Pastikan dia menyadari kalau dia tidak sendiri. Kalau kamu pun punya masalah sendiri yang harus diselesaikan sebelum membantu memperbaiki mood zia yang salah . Tapi pastikan untuk tidak pernah membandingkan besar kecil masalah yang kamu hadapi. Karena untuk orang-orang seperti zia masalahnya dianggap kecil oleh orang lain adalah hal paling menyedihkan. Karena percayalah, dia pun ingin bisa menganggap masalahnya sekecil itu. Pastikan dia menyadari dan mendapatkan stok kehadiran dan perhatian yang cukup. Mood nya akan lekas membaik sesimpel mendapatkan high five tiba-tiba dari seseorang yang melihatnya tengah kusut . Karena orang-orang seperti dia adalah orang yang cukup skeptis dengan maksud oranglain, maka pastikan untuk member...

Seumpama kisah Ibu

Ditengah hectic-hectic nya ngerjain quotation, Lalu kemimpian yang menurut mama, mimpinya menunjukkan kebimbangan yang sangat, Lalu mulai memasuki fase lelah sendiri dengan cara komunikasi ini, Masih harus ditambah dengan kerinduan pada lingkungan ternyaman: pada Mama-Papa, Ayah-Ibu, Kak Uc-Kujit, Adek, Fik-Veggies-Gracie. Akhirnya terlintas random thought seperti ini: Seandainya aku dan kamu, --yang senantiasa berusaha menanggapi kalimat bersajak ku dengan kemampuanmu berkata-kata, yang jujur saja, seringpula terseok-seok karena bersikeras agar kita ada di satu frekuensi bahasa yang sama- yang bersama, saat ini, mungkin semua kalimat manisku akan berbalas. Hari-hari ku akan penuh dengan puisi. Akan sangat jarang sekali emoticon bermunculan di percakapan kita, bahkan saat aku tengah sedih atau kesalpun, tutur kata yang keluar adalah kalimat yang halus. Kamu akan memutar otak mencoba memahami arti sebenarnya dari kalimatku. Hingga kamu lelah lalu menyerah dan menanyakan langsung ...

saat butuh disemangati

Kamu akan selalu menjadi apa yang ku ekpektasikan dari seseorang yang ku doakan. Caramu yang gelagapan lalu langsung berpikir ketika dengan randomnya aku meminta untuk disemangati, kemudian menyampaikan dengan polosnya bahwa kamu tak mampu menyemangati, karena selama ini kamu selalu disemangati oleh ku. Namun setelahnya, menyiratkan berbagai kalimat menyanjung, seolah menyadarkan bahwa aku yang kamu kenal sehebat itu. Padahal ku yakin tidak. Seterusnya aku akan bersikukuh mengatakan aku tidak sehebat itu. Dan kamu dengan manis mengemas segala ketidakhebatan ku itu menjadi kekuatan terbesar yang unik, yang hanya aku seorang yang mampu mengendalikannya. Lalu lanjutmu, "jika hidupmu itu diberikan padaku, aku adalah orang yang tak akan sanggup menjalaninya." Kau tau, itu adalah kalimat yang paling menguatkanku. Terimakasih, sungguh.

Serangkum kisah

Setelah sekian waktu berusaha keras untuk menutup paksa sebuah kisah, Aku disini, selesai menyusut sisa tangis 2jam lalu. Selesai melipat kembali sajadah dan mukena putih, lalu menghampar di lantai. Menopangkan punggung pada pinggiran kasur, menaikkan volume musik agar kamar terasa sedikit berisik, cukup untuk meredam sedu sedan, dan menyiapkan segelas tinggi air putih, berjaga barangkali kerongkongan ku perih menelan dalam-dalam serak tangis dan suara teriak tertahan. Maka, ku mulai menulis kisah lalu itu di lembar ini. ... Lepas dari aku menamai perjalanan itu sebagai sebuah perpisahan, lepas dari aku mengetahui siapa yang tengah ku temani, lepas dari aku mengakui bahwa aku tengah mengagumi, lepas dari aku memberikan petunjuk pada rasa kagum itu, dan tak berbalas Aku telah mundur, semata karena tidak ingin berjuang di medan yang salah, sesederhana karena mengumpamakan jika aku ada di posisi wanitanya , seyakin-yakinnya telah salah tempat Seolah paham, atau barangk...

Perihal menatap.

Beberapa waktu terakhir ada hal yang mulai ku perhatikan karena menyadari untuk tindakan yang sama "eksekusi"nya berbeda. Kali ini tentang, menatap. Bagiku, menatap lawan bicara saat berkomunikasi adalah hal yang penting. Mata dengan segala bentuk dan raut nya menyiratkan bahasa yang jauh lebih jujur dibanding yang tersampaikan lewat mulut. Aku terbiasa menatap lawan bicaraku dan memperhatikan bagaimana cara mereka menatapku. Melalui tatapan aku bisa merekam dengan baik, bagaimana ekspresinya saat berbicara, gesture tubuhnya, dan hal tersirat yang tak mampu ia utarakan dengan kalimat. Aku tidak tau bagaimana dengan oranglain, namun bagiku, ketika aku menatap lawan bicaraku biasa saja, hanya sekedar menatap, maka besar kemungkinan bahwa tidak ada hal spesial diantara kami. Hanya ada hubungan umum seperti teman kerja misalnya atau teman main. Menatap dengan biasa, hmm ku deskripsikan sebagai tatapan yang tidak tajam, mata yang tidak begitu membola, dan saat senyum ...

Al Kaafirun

Tadi baca berita line today dan ada postingan dari seorang musisi menyikapi aksi demo 4 November (cek  Apa yang akan saya lakukan jika agama saya dihina ) Apa yang akan saya lakukan jika agama saya dihina? Saya akan diam. Kenapa? Karena saya percaya Tuhan maha kuasa. Ingat ya, Bali dibom dua kali oleh orang-orang yang mengatasnamakan sebuah agama, menganggap Bali sebuah tempat yang 'kotor dan layak dilenyapkan'. Tapi apa yg terjadi setelah bom-bom tersebut? Ga ada yang namanya demo atau aksi menolak agama tertentu di Bali. Yang terjadi malah saling bantu untuk memulihkan Bali. Sekarang bayangkan, jika saya dan orang-orang Bal i lainnya berpola pikir "wah, agama itu memusuhi agama/budaya saya, dan agama saya mengajarkan saya untuk membalas dendam dan membunuh orang-orang tersebut" bisa kamu bayangkan apa yang akan terjadi? Ya. Perang. Perang. Dan perang. Darah. Air mata. Kehancuran. Lalu? Masuklah asing dengan propaganda 'mendamaikan' kon...

seru sarat rindu

allahuakbar allahuakbar allahuakbar laa ilaa haillallah huallahuakbar allahuakbar walilla ilham sayup sayup kudengar kumandang takbir. tak seberapa waktu yang lalu serombongan bocah-bocah melewati gang sempit kos kos an dengan riuh bedug dan gendang. ibuk kos yang tengah sibuk membersihkan dandang di dapur setelah menanak ketupat. ah, esok Idul Adha kembali datang. aku yang masih berada di pulau Jawa, tengah berebut tempat menyusun mimpi mimpi lama, jauh dari rumah. adikku, mungkin kini tengah sibuk mengumandangkan takbir dari mesjid pesantren diselimuti hawa dingin padangpanjang. jauh dari rumah. beberapa jam yang lalu papa menelpon. mengabari, mama yang tengah memasak rendang dan oseng tempe untuk dipaketkan ke bandung dan padangpanjang. bercerita tentang bibik, nenek dan uwak yang pulang ke benakat. seru sekali mendengarnya. seru yang sarat rindu. bilakah kita berkumpul berkurban bersama? bukan sekedar kurban waktu dan perasaan. seru sarat rindu garis garis wajahmu tak lag...

note

dear Zia, semuanya pasti akan selesai kalau dikerjakan. jadi mulailah mengerjakan apapun dari sekarang. meski sedikit dan perlahan, paling tidak sudah mengurangi proses yang harus dilewati. karena suatu pekerjaan tidak akan tuntas hanya dengan dikhayalkan atau diandai-andaikan. jangan takut melakukan kesalahan. karena kesalahan  kesalahan itu yang akan menuntun pada kebenaran. ayoo semangatt!!

Dia, dalam versi orang ketiga

Belakangan, semenjak menulis ini di bio twitter sekitar tiga tahun yang lalu, " belajar memahami orang-orang introvert " Dia merapuh. Dia mulai "lelah" -mari kita gunakan kata itu, karena stres terdengar terlalu menyeramkan- Mulai menerima pertanyaan sejenis, 'udah skripsian?', 'skripsinya tentang apa?', 'kapan lulus?', 'mau magang dimana?', 'rencana kedepan mau ngapain?', dst. Mulai memaksakan banyak tawa. Kerap kali terlihat tertawa lepas, terbahak-bahak. Terlihat menyedihkan. Tantrum, tau? Dia mulai meningkatkan frekuensi mendengarkan alunan yang lembut untuk meredakan tantrumnya. Ada banyak sekali kalimat yang berkeliaran di kepalanya, tapi terlalu sedikit yang mampu ia ucapkan. Dia mulai kehilangan cara untuk berkata-kata. Otaknya berkali-kali memerintahkan untuk berteriak, tapi syarafnya mengirim sinyal menangis. Dia lupa bagaimana caranya marah. Dia tidak suka ditinggalkan. Sulit sendiri. Orang-orang mengangg...

Zia

Berhenti mengeluh, Zia! Mengeluh hanya akan membuat hari mu lebih panjang dan melelahkan. Berhenti mencari tahu untuk hal yang tidak penting, Zia! Itu hanya akan membuat kamu kesal, mandeg dan membodohi perasaan. Berhenti menunda, Zia! Menunda hanya membuat kamu menjadi tidak maksimal, lalu menuai hasil yang biasa-biasa saja. Berhenti bermain-main dengan waktu, Zia! Karena waktu lebih licik dari yang kamu pahami. Duh, Zia. Apa yang sedang kamu alami? Apa yang tengah terjadi? Mengapa hati mu sekeras ini? Mengapa otak mu menjadi begitu bebal? Mengapa seperti yang hilang tujuan? Tidakkah kamu melihat teman mu berlari? Tidakkah kamu sadar waktu mu terbatas? Tidakkah kamu mengerti? Duh, Zia. Apa yang salah pada mu? Kenapa untuk tidur saja begitu sulit nya? Haruskah kamu meminum obat tidur setiap malam? Mengapa membiarkan otakmu terus bekerja keras tanpa kamu tau hasilnya? Sudah menyelimuti diri pukul 23.00, memadamkan nyala lampu, mendengarkan alunan musik nan merdu, ...

Sajak-sajak singkat

G (I) aku fikir diam telah banyak memendekkan jarak, ternyata itu adalah bahasanya. kabar baiknya, kita mengerti. sejauh ini (II) ruang kita adalah jarak, bahasanya diam. hebatnya, saling mengerti lewat satu-dua kata dan tanda senyum. bahkan senyumpun lewat titik dua kurung! (III) cukup mengerti, kata-kata itu aku dan kalimat ini kita. selalu begitu, bercerita dalam diam.  (IV) kenapa? ada yang berubah pada sikapku? coba lihat lagi hatimu, barangkali jawabannya sudah ada disana.  (V) purnama kedua akan segera terlewati. terimakasih pada setiap detik yang mengaduk dan membolak-balik perasaan kita. terimakasih karena masih bertahan memegang kemudi.  (VI) tidak peduli apakah kamu jauh atau dekat, terlihat jauh ataupun terlihat dekat. kamu sudah punya halaman sendiri. sekarang atau esok lusa, meski keadaan sudah berbeda kamu tetap apa yang selalu aku baca  (VII) seringkali bagiku kau layaknya hujan. turun sedikit menyejukkan atau deras...

Sayang

G aku harus menulis, sayang  karena ada banyak yang ingin diungkapkan --yang tak kunjung cukup waktu untuk kusampaikan--  karena ada banyak yang tak bisa aku tanyakan --oleh sebab tak cukup berani kukatakan--  tenang, tenanglah, sayang aku tidak akan menanyakan dan tidak ingin menanyakan, ketika Kau datang, dari mana saja Kau hari ini, kemarin, dan sebelum kemarin karena aku pun tidak ingin tau. tak pula ingin bertanya atas sebab apa Kau datang dan memutarkan musik, lantas melenggang pergi meninggalkan aku diantara dua cangkir latte seperti yang Kau lakukan terkahir kali aku tidak peduli. izinkan aku menulis, sayang menulis sebait puisi, yang lantas kuhapus kembali. lalu menulis sebaris lagi tapi yang terukir hanya kalimat yang sama tak juga mampu mewakili.  aku lah patung, sayang. yang kau tikam berulang, dengan pisau yang sama, di tempat yang sama. luka nya sama, sakit perihnya pun sama. hingga akhirnya aku hilang rasa.  malam ini ...

Pengganggu butuh waktu

G dan A sudah menghabiskan satu bar coklat melewatkan berjam-jam waktu tak jua satu huruf bertamu (karena) Nama kamu, Hey, pengganggu! tidak ada keterangan tanggal kapan tulisan ini di posting di tumblr

Jejak

G untuk masa-masa dimana aku belum bisa pastikan pulih seutuhnya, jangan terlalu lama bersarang disana jejak, itu meluka tidak ada keterangan tanggal kapan tulisan ini di posting di tumblr