Langsung ke konten utama

Postingan

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...
Postingan terbaru

Semenjak integritas lalu peringatan.

Lelah juga ya. Tapi tak tau inginnya bagaimana. Aku salah. Sudah kuakui, aku minta maaf. Aku dapat sanksi. Tapi entah dibagian hati yang mana yang tidak terima. Aku belum bisa mendefinisikan tangis ini bentuk amarah atau penyesalan. Aku kesulitan menjelaskan apa yang aku rasa. Beberapa yang jelas seperti, itu kesalahanku. Tapi tak pernah ada unsur menyengajakan diri. Lalu dibagian mana jadi letak salahnya? Bahkan dampaknya pun tidak terlihat. Aku diajarkan untuk tidak menyalahkan man power. Tapi analisa sistemnya. Ku lakukan Tapi tak kudapatkan perlakuan yang sama. Ini sungguhkan muaranya adalah salahku? Atau faktor lain kah? Semoga aku tumbuh dengan kebijaksanaan yang baik. Bahwa ternyata tua tak menjamin bijaksana. Lebih berpengalaman tak menjamin luasnya sudut pandang.

Untungnya hidup masih terus berjalan

Iseng nyobain mie aceh setelah tatap-tatapan dengan adek. Seperti saling bisa baca isi fikiran satu sama lain, "hayuk, makan mie aceh" Sekalimat absurd itu yang kemudian mengantarkan kami pada obrolan hati ke hati. Quality time cara kami. Membahas tentang keluarga Membahas tentang apa yang dia rasakan saat ini Membahas tentang trauma masa lalu kami dan pandangan kami tentang keluarga ini Ku kira aku sendiri yang merasa tak berpihak pada Mama Menyesali beberapa sikap beliau Namun ternyata adek juga sama Meski kami berdua sepakat untuk menyudahi, diam sembari memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut ke mama Lalu dia membahas bahwa, sepertinya latar belakang keluarga yang tak jauh beda itu yang akhirnya membuat dia bisa akrab dengan Ute, anak perempuan yang kerap kali hadir dikeluarga kami belakangan ini. Menutup sesi itu, seingatku adalah paling tidak 3kali kusampaikan pesan yang sama "Mbak nitip cuma dua. Satu jangan sampai ngebuat Mbak melalui...

dribble.

Aku mau menulis dari mana ya? Izinkan aku untuk ngelist keluh kesah saja kalau begitu. Untuk sekedar verifikasi apa yang kurasakan saat ini apakah valid dan rasional atau sebatas emosional sesaat saja. 1. Aku capek. Niat dari jauh-jauh hari, cuti di penghujung weekday agar punya waktu berkualitas untuk memikirkan diri sendiri. Menikmati masa kembali menjadi seorang pelajar -belajar dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian. Tapi dengan kondisi mas suami balik kerumahnya buat bayar pajak, bibi yang bantu bantu sakit juga, lalu adek, si paman yang diharapkan bisa ngebantuin dan nganterin kesana kemari buat healing trip, eh sakit juga. Jadinya aku cuti untuk mengurusi yang sakit. Jangankan review materi yang akan diuji, ngebuka soal ujian yang sama persis dari kelas sebelumnya aja gak sempat sama sekali. Kecewa sih dengan diri sendiri... Mana besok masih harus bangun lebih pagi untuk ke pasar sebelum memulai kelas brevet di jam 08 pagi. Lalu membayangkan gak ada yang akan ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...

Zia, pekerjaan dan teman.

Tampaknya satu-satunya alasan Zia masih bersosialisasi dan berhubungan dengan orang-orang ditempat kerja adalah bu Siska. Karena masih ada bu Siska. Karena masih punya tempat kembali untuk berkeluh kesah atau sekedar membahas kejadian bersama orang-orang diluar sana. Karena masih ada sosok yang setipikal dan sama, maka apapun yang kita bahas akan mendatangkan pemahaman yang sama tanpa perlu effort lebih untuk menjelaskan terlalu detail. Atau dalam bahasa singkatnya : hubungan mode hemat energi. Jadi bukan masalah besar harus menghadapi orang-orang diluar sana karena toh masih ada tempat untuk recharge energi karena rasa lelah setelahnya. Namun tentu perasaan yakin yang aku tulis diatas baru terasa saat sampai waktunya kita berpisah. Terdengar egois karena seperti Zia kehilangan tempat recharge energi nya, terbaca seperti ini hanya rasa sedih sepihak yang dipaksakan. Entah apa bu Sis merasakan hal yang sama. Semoga apapun yang terjadi diluar sana akan menjadi hal-hal baik untuk bu Sis d...

Ketidakwarasan padaku

Tampaknya hidup sebercanda itu. Lihat, sekian tahun berlalu dan kini kondisi itu kembali. Namun kita bertukar peran. Tolong, jangan gila dulu. Meski mbak pernah melewatinya, tapi tidak cukupkah itu terjadi satu kali saja? Haruskah kita mengulang fase itu lagi?