Langsung ke konten utama

Sembunyi

Setelah melewati berbulan-bulan tanpa meninggalkan kabar, nyatanya aku kembali pulang. Setelah terlalu banyak terluka, terlalu rapuh, dan remuk segala, aku kembali. Entah engkau yang terlalu baik bak malaikat, atau memang sedari awal tak benar-benar peduli datang dan pergi ku, Kau selalu ada. Pintu ini senantiasa tak terkunci. Dari beberapa hal yang menghampiri, mungkin ini salah satu yang patut disyukuri. Setidaknya aku tampak lebih baik dari sebagian mereka yang tak punya tempat kembali.

Jauh di dalam sanubari, aku rasa kau bukan hanya tempat kembali. Tapi tempat bersembunyi ketika seluruh dunia memojokkan, menikam dan menghunus tatapan tak menyenangkan. Kau adalah tempat persembunyian yang tak menawarkan apa-apa. Takpula perlindungan, meski ku rasa semua orang yang bersembunyi nyatanya membutuhkan itu. Sedang Kau, tidak.

Kau hanya memberi ruang. Tak luas, untukku diam sejenak. Mencerna banyak hal satu persatu. Mendinginkan dan mengendapkan banyak rasa agar terkubur jauh di dasar. Menurutmu, tak ada lagi yang perlu kau lakukan. Karena Aku semestinya bertanggungjawab sendiri atas semua rasa dan siksa.

Tak apa.
Sekali lagi, Aku berterimakasih.

Postingan populer dari blog ini

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...