Langsung ke konten utama

Langit runtuh (2)

"Aku gabisa tidur seharian" kata Mas saat aku pulang kerja. Mestinya mas harus tidur, agar punya cukup tenaga untuk kerja di shift malam.

"Aku nangis seharian" jawabku menanggapi pernyataannya.

Kami hanya berdua. Aku mati-matian berusaha untuk kuat demi Mas. Sebagai sesama anak sulung, aku memahami rasa sakitnya. Sakit hingga ke tulang-tulang. Kami terbiasa keras pada diri sendiri, mengupayakan segala hal agar adik yang kami sayang tak perlu membangun semua jalannya dari awal. 

Kami terbiasa mengarahkan dan cenderung memaksakan semua penyebab masalah kepada diri sendiri. Kami belokkan semua arah anak panah agar menancap dalam ke hati kami. Biar adik tak perlu merasakan hal itu. Cukup mereka tau hal-hal rasional dan logis saja. Perihal emosional, psikologis, biar hati kami yang paling dulu.

Kami selalu keras, bicara sedikit, cenderung tampak tak hangat dan tak teraih, agar seluruh rasa hangat dan kasih tumpah dan tertuju untuk adik. Biar kami yang keras, biar kami yang tegas, agar tak ada rasa lain selain cinta dan kehangatan untuk adik.

Maka saat peristiwa kali ini terjadi rasa runtuhnya aku pahami. Meski tampak fisik Mas hanya menangis di hari pertama aku tau dia yang paling hancur.
Namun kembali lagi, ketika menikah maka adiknya adalah adikku. Meski mungkin aku masih cukup kuat untuk mengusap punggung mas malam itu, tapi hari-hari berikutnya tangis ku tak kunjung selesai. 

Kalaulah aku saja begini, bagaimana ibuk dan bapak?
Bagaimana dengan adik kami?

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...