Iseng nyobain mie aceh setelah tatap-tatapan dengan adek. Seperti saling bisa baca isi fikiran satu sama lain, "hayuk, makan mie aceh"
Sekalimat absurd itu yang kemudian mengantarkan kami pada obrolan hati ke hati. Quality time cara kami.
Membahas tentang keluarga
Membahas tentang apa yang dia rasakan saat ini
Membahas tentang trauma masa lalu kami dan pandangan kami tentang keluarga ini
Ku kira aku sendiri yang merasa tak berpihak pada Mama
Menyesali beberapa sikap beliau
Namun ternyata adek juga sama
Meski kami berdua sepakat untuk menyudahi, diam sembari memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut ke mama
Lalu dia membahas bahwa, sepertinya latar belakang keluarga yang tak jauh beda itu yang akhirnya membuat dia bisa akrab dengan Ute, anak perempuan yang kerap kali hadir dikeluarga kami belakangan ini.
Menutup sesi itu, seingatku adalah paling tidak 3kali kusampaikan pesan yang sama
"Mbak nitip cuma dua. Satu jangan sampai ngebuat Mbak melalui hal traumatis yang sama itu dua kali. Dan kedua, jangan sampai adek gak makan. Buat mbak, kejadian yang lalu itu benar-benar menguras energi mbak lahir dan batin. Lalu kalau mbak tau adek sampai gak bisa makan, mbak merasa berdosa dan bersalah banget. Merasa gak mampu jadi kakak. Selain itu terserah adek. Buat mbak adek cukup dewasa untuk menentukan semua pilihan di diri adek. Mbak nitip cuma dua itu aja"
Dia menjawab dengan takzim, "iya"
Lirik lagu Bernadya ini menemani aku merekam jejak quality time kami, semoga kelak menjadi pengingat manis saat kami sampai di fase hidup lainnya.
'Ada waktu-waktu hal buruk datang berturut-turut
Semua yang tinggal juga yang hilang
Seberapa pun absurdnya pasti ada makna'