Langsung ke konten utama

untold story: Jogja!

Bocah : "ini bukan ekor layangan"
Selamat pagi dua kosong tiga!
Pagi yang cerah, matahari bersinar, cucian menumpuk, sekarang hari Senin dan aku masih selimutan di kasur bersama doci dan minji. Lagi sakit (lagi).
Sedikit tentang perjalanan buang sial.
Sebenernya kita beelima ngerencanain perjalanan ini dari semester empat, tapi gagal karena banyak kendala. Lalu rencana ini gak pernah tersentuh, sampai suatu senja di awal semester enam tiba-tiba terlintas,

"Hari Senin kan kita kosong, Sabtu cuma Eta sama Asangki kelas Akfor. Ya udahlah jadiin Jogja!"

Aku sama Eta toss bareng, langsung meluncurkan rencana ke bocah dan dia setuju. Udah tiga orang. Kendala tersulit kita adalah Debo. Terakhir aku nelpon Asangki yang masih di Cimahi,

"Ki, kita mau ke Jogja. Berangkat tgl 6, balik tgl 9. Gue, Eta, Bocah udah bisa nih. Lo ikut ga?"
"Ya ikut lah!"

Yup! Empat orang. Tinggal satu lagi.
Debo. Dia mau ikut tapi pertengahan April. Buat Debo, rencana h-21 itu terlalu mendadak, terlebih setelah kkn dia terkuras banyak. Aku menghubungi Asangki dan Eta menghubungi Arin, hingga kami tiba pada satu kesepakatan,

"Deb, tanya nyokap boleh apa ngga pergi ke Jogja. Masalah uang kita beresin rame-rame. Yang penting bisa pergi limaan, kita gatau kapan punya waktu lagi Deb"

Begitulah. Masalah awal terselesaikan. Fix pergi berlima.
Buat aku ini adalah perjalanan buang sial.
Buat Debo ini perjalanan kabur dan mencari diri nya yang utuh setelah badai perasaan menerjang.
Buat Eta ini perjalanan melihat Jogja untuk pertama kali nya.
Buat Asangki ini liburan.
Buat Ain bocah, ini sekedar pulang kerumah, nginep gak dirumah, terus main ke Jogja.
Satu Jogja, lima perkara.

Urusan transportasi, bagian bocah. Tiga hari setelah semua memutuskan pergi, dia, Asangki dan Eta ke stasiun beli tiket Bandung-Purworejo dan Jogja-Bandung untuk lima orang. Total sepuluh tiket yang di print, dan kalau kata bocah,
"Ini bukan ekor layangan" (sambil motoin cetakan tiket yang panjang)
Urusan makan kita pasrahkan pada angkringan sepanjang jalan.
Yang lain? Ibu Sujadi (Ibuk nya bocah) dengan senang hati dan was-was memberikan sangat amat banyak bantuan agar kami aman selama menyelesaikan perkara masing-masing.
Semua terlihat lancar sampai h-7 mama nelpon dan bilang papa tiba-tiba berubah pikiran. Papa gak ngasih izin buat pergi. Alasan papa, beliau takut Z kenapa-kenapa. Banyak kecelakaan, perampokan dsb. Buat papa, tidak ada satupun tempat di bumi yang cukup aman selain rumah. Z pasrah, setelah ngebujuk dan penuh negosiasi, ditambah rengekan, papa ngasih izin pergi, bersyarat:
Gak boleh main sama laki-laki, harus angkat telpon kapanpun, dan gak boleh sakit.
 Problem solved!
H-4 keberangkatan, Z sakit.
Papa mama belum tau.
Semoga lekas sehat sebelum pergi.
 

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Untukmu dek, yang mulai merasa lelah dan bosan

apa kabar adikku sayang? "sudah November Kak. Kabar kami semakin kacau. 3 minggu lagi TO Propinsi, kemaren ni siap ujian mid kak. Sekarang nilai yang diterima nilai-nilai asli aja lagi. masih banyak pelajaran yang belum ngerti Kak ........dst" (tersenyum, menatapmu lembut) kemudian engkau menghela napas pelan, "ibuk tu ngajarnya gak jelas Kak. Udah kelas 3 masih aja tetap suka ngantuk di kelas Kak. masih sering tidur dikelas. masih main kartu dikelas, masih nonton pas guru ndak masuk, masih jarang ke mesjid buat dhuha padahal kelas sudah semakin dekat jaraknya dengan mesjid. tapi masih lebih dekat ke nena sih Kak...." (masih menyimakmu berbicara) "masih suka telat lah beberapa kali Kak. Kadang curi-curi waktu buat cabut, soalnya pelajarannya membosankan. Adalah beberapa kali ngebuatkan surat izin teman. masih suka ngebaca novel atau komik pas lagi belajar. Sekarang malah lagi sering-seringnya cek TL twitter

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...