Langsung ke konten utama

Jadi, kita bagaimana?

Lalu, apa sebenarnya titel relationship kita ini?

Kenal bertahun-tahun. Saling tau sejak masih sama-sama sibuk saling mengalahkan saat berseragam putih abu.
Saling ribet memperkenalkan anggota keluarga. Acapkali menyengaja menaikkan topik tentang kejadian kecil dirumah saat tengah bercakap di telpon atau chatting di bbm.
Terlibat banyak alur pembicaraan.
Lebih banyak diantaranya ditutup kabut, abu-abu.

Saling menguji, mencelupkan jemari di air. Melihat reaksi satu sama lain. Kita bahkan melakukan teknik politik pejabat diluaran sana terhadap hubungan ini.
Apa ada yang pernah merasa salah saat tiba-tiba mendapati hp berkelip menandakan pesan masuk,
"Apa kabar?"
Setelah berminggu-minggu tak
menyapa.
Lalu percakapan seterusnya mengalir tenang. Tiga-empat kalimat menyiratkan kerinduan, kecemburuan, dan entah emosi ganjil apa lagi.
Tapi, hey tidak ada yang bisa memberikan titel apapun pada cara komunikasi kita.

Kita tidak pernah dengan gamblangnya mengucap rindu. Tapi membungkus rapi emosi itu pada sebaris dua percakapan.

"Semoga ada kesempatan. Paling ngga, kita ga harus nunggu 2tahun buat ketemu lagi. Keburu punya hidup masing-masing dan bener2 gabisa ketemu dg becandaan dan cerita2 gak penting."

"Aku yakin msh bnyk wktu yg Allah sediakan buat kita tulis cerita indah bersama"

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Untukmu dek, yang mulai merasa lelah dan bosan

apa kabar adikku sayang? "sudah November Kak. Kabar kami semakin kacau. 3 minggu lagi TO Propinsi, kemaren ni siap ujian mid kak. Sekarang nilai yang diterima nilai-nilai asli aja lagi. masih banyak pelajaran yang belum ngerti Kak ........dst" (tersenyum, menatapmu lembut) kemudian engkau menghela napas pelan, "ibuk tu ngajarnya gak jelas Kak. Udah kelas 3 masih aja tetap suka ngantuk di kelas Kak. masih sering tidur dikelas. masih main kartu dikelas, masih nonton pas guru ndak masuk, masih jarang ke mesjid buat dhuha padahal kelas sudah semakin dekat jaraknya dengan mesjid. tapi masih lebih dekat ke nena sih Kak...." (masih menyimakmu berbicara) "masih suka telat lah beberapa kali Kak. Kadang curi-curi waktu buat cabut, soalnya pelajarannya membosankan. Adalah beberapa kali ngebuatkan surat izin teman. masih suka ngebaca novel atau komik pas lagi belajar. Sekarang malah lagi sering-seringnya cek TL twitter

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...