Langsung ke konten utama

pamit

Dalam fantasi ku, kau bersemayam.
Tersenyum hangat ke arahku
Dalam imaji paling liar ku, kau tengah bersanding dengan cincin melingkar menghias jari manis, kopiah merah khas baju adat minang membalut tubuhmu yang tak begitu berisi.
Baik keduanya, wajahmu tetap berbingkai senyum. Deret gigimu semakin banyak kau tunjukkan selang berganti tamu yang datang.
Entah senyum itu untukku atau bukan, aku bahagia. Aku yakin kau pun sama. Entah kau sadar atau tidak, aku hadir. Bermaksud mengucap salam perpisahan yang paling akhir.
Barangkali hanya kucing dapur yang terusik akan datangku tadi, ditambah seorang bayi laki-laki, keponakanmu yang seketika menangis histeris. Selainnya tak ada.
Kau bahkan tak lagi acuh saat sekian banyak orang dengan santainya menghadangku, berlalu melewatiku.
Senyum mu masih tak jua luntur.
Barangkali hanya temannya kucing dapur yang tak sengaja lewat, terkejut lalu mengibas ekor yang tau hadirku tadi. Ditambah seorang ibu hamil yang terkesiap saat ku beranjak pergi. Selainnya tak ada.
Tak ada.
Aku berlalu.
Memberi hawa dingin yang kusam pada setiap yang terlewatkan.

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Untukmu dek, yang mulai merasa lelah dan bosan

apa kabar adikku sayang? "sudah November Kak. Kabar kami semakin kacau. 3 minggu lagi TO Propinsi, kemaren ni siap ujian mid kak. Sekarang nilai yang diterima nilai-nilai asli aja lagi. masih banyak pelajaran yang belum ngerti Kak ........dst" (tersenyum, menatapmu lembut) kemudian engkau menghela napas pelan, "ibuk tu ngajarnya gak jelas Kak. Udah kelas 3 masih aja tetap suka ngantuk di kelas Kak. masih sering tidur dikelas. masih main kartu dikelas, masih nonton pas guru ndak masuk, masih jarang ke mesjid buat dhuha padahal kelas sudah semakin dekat jaraknya dengan mesjid. tapi masih lebih dekat ke nena sih Kak...." (masih menyimakmu berbicara) "masih suka telat lah beberapa kali Kak. Kadang curi-curi waktu buat cabut, soalnya pelajarannya membosankan. Adalah beberapa kali ngebuatkan surat izin teman. masih suka ngebaca novel atau komik pas lagi belajar. Sekarang malah lagi sering-seringnya cek TL twitter

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...