Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Untungnya hidup masih terus berjalan

Iseng nyobain mie aceh setelah tatap-tatapan dengan adek. Seperti saling bisa baca isi fikiran satu sama lain, "hayuk, makan mie aceh" Sekalimat absurd itu yang kemudian mengantarkan kami pada obrolan hati ke hati. Quality time cara kami. Membahas tentang keluarga Membahas tentang apa yang dia rasakan saat ini Membahas tentang trauma masa lalu kami dan pandangan kami tentang keluarga ini Ku kira aku sendiri yang merasa tak berpihak pada Mama Menyesali beberapa sikap beliau Namun ternyata adek juga sama Meski kami berdua sepakat untuk menyudahi, diam sembari memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut ke mama Lalu dia membahas bahwa, sepertinya latar belakang keluarga yang tak jauh beda itu yang akhirnya membuat dia bisa akrab dengan Ute, anak perempuan yang kerap kali hadir dikeluarga kami belakangan ini. Menutup sesi itu, seingatku adalah paling tidak 3kali kusampaikan pesan yang sama "Mbak nitip cuma dua. Satu jangan sampai ngebuat Mbak melalui...

dribble.

Aku mau menulis dari mana ya? Izinkan aku untuk ngelist keluh kesah saja kalau begitu. Untuk sekedar verifikasi apa yang kurasakan saat ini apakah valid dan rasional atau sebatas emosional sesaat saja. 1. Aku capek. Niat dari jauh-jauh hari, cuti di penghujung weekday agar punya waktu berkualitas untuk memikirkan diri sendiri. Menikmati masa kembali menjadi seorang pelajar -belajar dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian. Tapi dengan kondisi mas suami balik kerumahnya buat bayar pajak, bibi yang bantu bantu sakit juga, lalu adek, si paman yang diharapkan bisa ngebantuin dan nganterin kesana kemari buat healing trip, eh sakit juga. Jadinya aku cuti untuk mengurusi yang sakit. Jangankan review materi yang akan diuji, ngebuka soal ujian yang sama persis dari kelas sebelumnya aja gak sempat sama sekali. Kecewa sih dengan diri sendiri... Mana besok masih harus bangun lebih pagi untuk ke pasar sebelum memulai kelas brevet di jam 08 pagi. Lalu membayangkan gak ada yang akan ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...