Langsung ke konten utama

3jam 48menit itu cinta

sudah pantaskah aku berbicara tentang cinta?
kemarin malam aku melihat postingan ini dari fb Darwis Tere-Liye, seorang penulis yang karya-karya nya aku sukai. coba lihat,
Jodoh itu rahasia Tuhan.

Yang namanya rahasia, kita mampu merobohkan gunung sekalipun, mengeringkan lautan, kalau tidak berjodoh, tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, mau benci setinggi bulan, mau menghindar ke ujung dunia, kalau memang berjodoh, tetap akan terjadi, ada saja jalannya.

Banyak sekali yg paham dan manggut-manggut membaca kalimat ini. Sayangnya, lebih banyak yg cuma manggut-manggut doang, di dunia nyata tetaaap saja galau, memaksakan cerita, tidak sabaran dan sekian banyak kelakuan lainnya. Kenapa nggak ditunggu saja sih? Sambil terus belajar banyak hal.
 
 bolehkah aku merasa "tersindir"? ini bukan masalah jodoh dalam arti sebenarnya, karena tolong diingat, aku belum kepikiran buat nikah muda. 
ini masalah hati dan ceritaku. aku tumbuh menjadi seorang perempuan yang bunglon. dalam artian, untuk beberapa orang mereka lebih melihat aku dengan sisi cewek manja yang semuanya mesti diperhatiin, ditemenin dan benar-benar harus dipantau terus. kemana-mana mesti di anter, mau ini itu mesti dapet dan lain sebagainya. sebagian orang menganggap aku sebagai perempuan mandiri yang kuat, tangguh, selalu tersenyum dan bisa melihat semua hal hanya dari sisi positif. jarang sekali mengeluh dan selalu menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi atau berkeluh kesah, karena aku seorang pendengar yang baik. sebagian lagi menganggap aku sebagai perempuan yang rapuh. bertulang tapi tak kokoh, berpenyangga tapi tak tertopang. berperasaan yang terlalu halus dan lembut, sehingga mudah terluka, mudah menangis, mudah ngambek. tapi juga akan dengan mudahnya tersenyum, tertawa lagi dan menangis lagi. sosok perempuan yang mesti dijagain terus, yang mesti selalu hatihati ketika berbicara padanya karena aku begitu lembut, begitu rapuh. salah sedikit saja aku akan retak hingga pecah berkeping-keping.
tumbuh dengan tiga sisi berbeda membuatku benar-benar menikmati setiap hari yang dijalani. hingga pada suatu masa yang lampau, ketika sebuah perasaan lembut yang berduri datang menyapaku tanpa sengaja. membuat aku tertegun, terpaku beberapa waktu. apakah aku sudah siap untuk perasaan itu?
perasaan lembut berduri itu bernama cinta.
ia datang bersama seorang yang tak pernah aku kenal sama sekali, meski sekeliling orang mengenalnya. entahlah, apa aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri atau ia yang tak pernah menyapa duniaku. meski kami ada pada satu jagad raya yang sama. kedatangannya pada awalnya hanya sebuah keisengan saja. sebuah tantangan dari seorang teman "apakah Kau mampu menakluk kan seorang gadis dari dunia itu?". dan ia berusaha menyanggupi karena ia terkenal dengan kemampuannya membuat yang ia mau, menjadi sesuatu yang ia dapatkan. tapi aku bukan apa yang ia mau, pada saat itu. maka aku memasang tameng, tembok tinggi yang sayangnya hanya tinggi tapi tak kokoh. ia bingung, belum pernah mendapati hal seperti ini, dan keputusanku untuk membuat tembok tinggi itu ternyata adalah kesalahan yang membuat aku menjadi apa yang kini ia inginkan dan pada saat itu ia perjuangkan. finally  tamengku hancur, tembok tinggi ku runtuh dan ia datang tanpa ada pembatas. tapi ia tak pernah tau bahwa aku adalah perempuan dalam tiga sisi, aku lihai untuk menyimpan rapi apa yang aku rasa. dan ia, meski telah menangis langsung kepadaku, menuntut jawab atas rasa nya yang ia berikan, tak pernah tau apa yang aku simpan. aku memberi jawab tapi entah kenapa ia yakin itu bukan jawabannya, dan bersikeras menuntut apa yang aku simpan begitu rapat, begitu rapi, tertutup dan jauh pada dasar yang paling kelam dan dalam.
lebih dari 180 hari ia rajin menunggu, menyapa, menjaga dan memberi. tak bosan karena yakin aku akan membuka rapat apa yang aku simpan. tapi sekjali lagi ia tak pernah tau aku pereempuan dalam tiga sisi. dan ia lelah, berdarah terlalu banyak. merasa kalah. kekalahann pertama memang selalu terasa sangat pahit, bukan? lalu ia pergi. pada kepergian pertama, ia kembali lagi. mencoba peruntungannya, tapi aku masih sama. tak bergeming. kali ini tak sampai 180 hari, hanya 74 hari dan ia pergi. kepergian kedua, untuk jangka waktu yang panjang. hingga aku nyaris lelah, menantinya untuk kembali. tepat ketika aku mulai berfikir untuk berhenti menanti ia datang. bukan 180 hari atau 74 hari, seperti yang sudah sudah. kali ini hanya 3jam48menit ! 12 menit lewat telpon dan sisanya lewat sms. miris? sedikit. kenapa aku ingat waktunya? lupa bahwa aku menyimpan perasaan itu jauh? teramat jauh? tapi rapi dan senantiasa hidup. makanya aku ingat. aku bahkan tak pernah menghapus setiap sms dan rincian telp waktu itu di hp yang lama. hahahaaa!
hari itu ia masih mengucapkan apa yang dulu sekali pernah ia utarakan, namun kini ia tak menuntut jawab. hanya mengutarakannya sekali lagi dan menutupnya dengan kalimat " aku gak tau ini akan bertahan sampai kapan zi. terimakasih karna membuat aku jadi rajin solat, jadi rajin bantu mama, jadi rajin datang kesekolah dan memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan.maaf karna aku terlalu memaksa pada hubungan ini. maaf karna selalu menelpon tengah malam karna entah kenapa saat itu aku merasa butuh untuk menelpon.maaf karna ini teman-teman jadi suka ngeledekin. aku janji setelah ini tidak ada lagi yang akan ngeledekin. dah zi, belajar rajin-rajin ya, udah kelas 3. jangan mikir macem-macem. selamat yah udah kelas 3. assalamu'alaikum zi"
setelah itu aku cuma diam, hanya menjawab salam lirih. berusaha tetap kuat, menahan agar tanggul ini tak bocor. tapi tak berapa lama setelah lampu kos ku di matikan untuk tidur malam, aku menangis perlahan. menangis karena ia yang pertama, meski tak pernah berstatus tapi ia yang pertama membuat aku menangis hanya untuk urusan yangf aku benci mengakuinya : cinta-jika memang betul ini yang namanya cinta-
setelahnya aku berusaha untuk tetap stay cool, menatap dunia. belajar dari nya, aku tak pernah lagi memasang tembok tinggi sebagai pembatas, takut tembok itu runtuh dan malah jadi bumerang balik untukku. aku menjalani semua dengan baik. perasaan itu? ia masih tetap utuh, masih tetap sama. bahkan hingga aku menulis ini, perasan itu masih ada, sama dan tak berkurang meski sudah tak pernah lagi komunikasi sedikitpun. jangan lupa, aku adalah penyimpan perasaan yang baik. maka rasa itu telah kumasukkan pada sebuah kotak, dan kusimpan jauh pada kedalaman hati sebagai sebuah kenangan.
aku mungkin pernah-dan bisa jadi sampai saat ini masih- merasa galau, memaksakan cerita dan tidak sabaran menunggu. tapi aku harap itu berhenti sampai disini. atau minimal tidak mengganggu aktifitasku yang lain.setelah beberapa lama, ia pergi. sesekali ia masih menyapa lewat sms, hanya sesekali dan itu sungguh amat jarang. namun satu hal, ia tetap menyapaku dengan sapaan khusus miliknya. aku enggan karena setiap kali ada sapaan itu, kotak yang jauh ku simpan itu bergetar sedikit-sedikit. aku takut kotak itu terbuka lagi. ketika aku utarakan ini kepada seorang sahabat, ia bilang "kamu harus melepaskan rasa itu. katakan dan semua akan selesai". 
selesai seperti apa? entahlah.
aku belum berani untuk membukanya lagi.

Komentar

  1. wah..wah..wah.. ada yang ngasih reaksi lucu.ckckck bukan reaksi yang aku harapkan :(

    BalasHapus

Posting Komentar

terimakasih sudah membaca ^O^

Postingan populer dari blog ini

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...