Langsung ke konten utama

sajak sepatu

aku tidak tahu ada berapa bilik dalam hatimu
apakah masih ada satu dari sekian banyak yang terisi
yang kau sediakan untukku bernaung
aku berusaha menepikan banyak hal saat kita berjalan bersisian lagi
setelah lebih dari 12 purnama terlalui begitu saja
adakah aku berada dalam satu bilik itu?
aku tidak mengerti ada berapa banyak rasa yang kau untai
apakah ada satu dari sekian banyak rasa itu milikku?
aku yakin kau lebih dari cukup sadar untuk tau aku mengulurkan tangan
tengah menanti apakah kau akan menyambut uluran tangan ini
mungkin jari kita menggenggam, tapi entah apakah hati kita bertaut
adakah hatiku tertambat sendiri?
setidaknya kau ingat,
kau yang mengetuk pintu ini saat malam datang
dan aku membukanya
bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya?
"masuklah jika kau ingin masuk, pintu ini terbuka. satu saja, jangan berdiri di pintu. macet."
aku berharap kau cukup baik hati untuk tidak membiarkan aku diterpa angin malam terlalu lama
karena membiarkan pintu ini terbuka
menunggumu masuk setelah mengetuknya
hari ini, esok, lusa dan seterusnya
aku masih akan berusaha menyelami dalamnya lautmu
mengukur seberapa banyak bilik dihatimu
dan menunggu hingga kau benar-benar masuk dan kita menutup pintu ini bersama
semoga aku tidak terlalu naif
semoga waktu cukup baik hati hingga aku tidak harus menatap punggungmu berbalik melangkah pergi
menutup pintu ini, dari luar
aku paham tidak ada yang boleh tertinggal atau terlupa dibelakang
itu alasan kenapa aku cukup sabar untuk menunggumu berdamai dengan terik siang
semoga kau tidak terlambat menyelesaikan siangmu
karena kau telah memintaku berdiri menantimu menutup pintu ini bersama
semoga kau tidak lupa, aku tidak cukup kuat untuk berurusan dengan dingin yang panjang
(karena jika saja dingin ini terlalu lama saluran udaraku mulai tertutup satu-satu)
pernahkah kau melihat asma ku kambuh?
jika belum, kukatakan dari kini
itu sakit


seperti di toko sepatu
kita bersisian, kiri dan kanan
tapi kau sibuk menghadap keseberang
sibuk mengeluhkan "andai kita di rak yang sama"
apakah aku dan kau merupakan sepatu yang sama dengan ukuran yang beda?
hari ini, esok, lusa dan seterusnya
aku akan tetap disini, disebelahmu
meski kau sibuk menatap rak dihadapanmu
hingga waktunya datang,
waktu saat pembeli memilih, membawa sepatu-sepatu pulang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada

Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.

Untukmu dek, yang mulai merasa lelah dan bosan

apa kabar adikku sayang? "sudah November Kak. Kabar kami semakin kacau. 3 minggu lagi TO Propinsi, kemaren ni siap ujian mid kak. Sekarang nilai yang diterima nilai-nilai asli aja lagi. masih banyak pelajaran yang belum ngerti Kak ........dst" (tersenyum, menatapmu lembut) kemudian engkau menghela napas pelan, "ibuk tu ngajarnya gak jelas Kak. Udah kelas 3 masih aja tetap suka ngantuk di kelas Kak. masih sering tidur dikelas. masih main kartu dikelas, masih nonton pas guru ndak masuk, masih jarang ke mesjid buat dhuha padahal kelas sudah semakin dekat jaraknya dengan mesjid. tapi masih lebih dekat ke nena sih Kak...." (masih menyimakmu berbicara) "masih suka telat lah beberapa kali Kak. Kadang curi-curi waktu buat cabut, soalnya pelajarannya membosankan. Adalah beberapa kali ngebuatkan surat izin teman. masih suka ngebaca novel atau komik pas lagi belajar. Sekarang malah lagi sering-seringnya cek TL twitter

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...