Adakalanya satu-dua perempuan dengan gemas nya mendoakan kamu untuk segera menikah. Bukan hanya karena mengasihimu, namun lebih kepada karena kepastian statusmu merupakan penawar terakhir bagi hati nya yang terbirit-birit saat kau hadir di jarak pandangnya. Tadinya ingin mendoakanmu untuk dirinya sendiri, lalu sadar kamu telah berpunya pada hati yang lain, maka mendoakanmu menjadi halal untuk yang lain, menjadi tawar baginya untuk segera menuntaskan perkara rumit yang tercipta, sebagian besar karena kesimpulannya sendiri. Ah, terlalu banyak karena. Karena perempuan.
Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.