Percayalah, sebagian besar perempuan, ketika muncul hasrat ingin tahu nya, celah sekecil apapun mampu dibukanya menjadi jurang mengaga. Serapi apa menghilangkan jejak, sangatlah pandai ia temukan. Untuk kemudian menambah rumit pekerjaan rumahnya sendiri: satu untuk menahan dentum degup jantungnya, dua untuk menahan diri melanjutkan pencariannya. Terlepas dari hasil pencariannya membuahkan rasa sakit penyesalan atau bahagia bersemu, ia mampu. Yang lebih epik lagi, kemampuannya memoles kalimat dan keadaan, hingga seolah semua informasi datang tanpa ia cari. Lalu menjadi dalil pembenaran atas sekian episode salah tingkah atau lamun murung di wajah. Perempuan, kau tahu, kami begitu. Hati-hati, kamu.
Ada waktu waktu yang seharusnya kita lupakan Seperti membalik halaman novel kedua puluh menuju halaman dua puluh satu Atau bahkan langsung meloncat ke halaman empat ratus dua puluh enam, sedang halaman ke empat ratus dua puluh tujuh tempat frasa The End berada Ada senja senja yang mestinya terlewat begitu saja Meski hujan rintik, lampu taman meredup, bangku taman basah, anak-anak bermain bola dengan girang, Ada bunga bunga terlarang untuk kita simpan Yang kadang misteriusnya melebihi mawar, wanginya melebihi semerbak melati, teduhnya melebihi kamboja Ada Ada hal hal yang patutnya diacuhkan Tapi mantra apa yang perlu diucap? Jika saja mantra itu benar adanya ... Ada. Lafadznya 19 November 2015 ngga sengaja nemu puisi ini di laptop. puisi yang ditulis pada saat dirumah dan cuti kuliah.