Langsung ke konten utama

Postingan

Ketidakwarasan padaku

Tampaknya hidup sebercanda itu. Lihat, sekian tahun berlalu dan kini kondisi itu kembali. Namun kita bertukar peran. Tolong, jangan gila dulu. Meski mbak pernah melewatinya, tapi tidak cukupkah itu terjadi satu kali saja? Haruskah kita mengulang fase itu lagi?

Sulung

Aku harus banyak bersyukur karena Allah titipkan Mas sebagai suami, sebagai teman berbagi segalanya sepanjang usia pernikahan. Aku disini, berada jauh dari Kinasih untuk sejenak. Kembali ke Bandung, bukan dalam rangka menyelesaikan dan menenangkan diri. Namun kembali sebagai yang berusaha menguatkan, tengah menjulurkan tangan sebagai penopang, tengah merendahkan punggung sebagai tempat berpijak adikku yang nyaris tenggelam. Sejujurnya aku lelah. Bertemu adik pun aku bingung harus mulai bicara darimana. Aku sudah membuat reka adegan, puluhan kondisi, namun tak satupun yang menemui akhir. Aku tak tau apakah langkahku benar.  Rasanya ingin berteriak kencang, aku ini hanya anak perempuan pertama. Akupun tak mengerti dan tak tau bagaimana caranya menyelesaikan semua masalah. Apa semua masalah harus aku lalui? Apa semua hal harus aku selesaikan? Tidak bisakah sesekali aku hanya menjadi penonton saja? Tidak bisakah aku melewatkan beberapa hal? Haruskah aku bertanggungjawab atas segala ses...

Langit runtuh (3)

Semenjak malam itu, waktu berlalu tak pernah lagi sama Aku memang mulai berjalan pagi Dari semula hanya satu putaran Kini menjadi dua putaran Namun kali ini, pandangku lebih sering mendongak Bukan karena sombong ataupun angkuh Namun menggenangkan air mata sesaat lebih lama. Sebelum akhirnya jatuh membasahi pipi Setiap hela nafas rasanya jadi lebih berat Ada beban di dada yang mengganjal Meski aku mulai mengurai satu satu permasalahan Meski aku telah menerima semua masalah ini Meski aku telah sadar sepenuhnya bahwa ini harus dijalani Dan nanti setelah ini selesai, aku tak lagi sama seperti aku saat ini Meski semua itu aku sadari Tapi menjalani ini benar-benar ya Allah.. Aku lelah.

Langit runtuh (2)

"Aku gabisa tidur seharian" kata Mas saat aku pulang kerja. Mestinya mas harus tidur, agar punya cukup tenaga untuk kerja di shift malam. "Aku nangis seharian" jawabku menanggapi pernyataannya. Kami hanya berdua. Aku mati-matian berusaha untuk kuat demi Mas. Sebagai sesama anak sulung, aku memahami rasa sakitnya. Sakit hingga ke tulang-tulang. Kami terbiasa keras pada diri sendiri, mengupayakan segala hal agar adik yang kami sayang tak perlu membangun semua jalannya dari awal.  Kami terbiasa mengarahkan dan cenderung memaksakan semua penyebab masalah kepada diri sendiri. Kami belokkan semua arah anak panah agar menancap dalam ke hati kami. Biar adik tak perlu merasakan hal itu. Cukup mereka tau hal-hal rasional dan logis saja. Perihal emosional, psikologis, biar hati kami yang paling dulu. Kami selalu keras, bicara sedikit, cenderung tampak tak hangat dan tak teraih, agar seluruh rasa hangat dan kasih tumpah dan tertuju untuk adik. Biar kami yang keras, biar kami ya...

Langit Runtuh

Dalam 3th 2bulan pernikahan kami, 3 kali aku lihat mas menangis karena masalah. Bukan tangis bahagia seperti yang ia susut saat mendampingi aku bersalin. Sekali saat aku tengah hamil besar, kami berencana ikut bazzar, menanam modal ditengah kondisi keungan yang pas-pasan, qadarullah covid melanda dan bazzar ditiadakan. Uang terendam, gajian masih jauh, perutku besar. Mas menangis dalam usahanya ingin mencari tambahan uang untuk persiapan si kecil lahir. Aku memeluknya, menenangkan dan berusaha tertawa. Mengatakan hal biasa awal berdagang dapat kejutan. Kali kedua, saat gadis kecil kami menjelang 40hari. Kuterima panggilan tak terjawab hingga 72kali dari Papa. Lantas saat kutelp kembali, runtuhlah langitku saat itu. Kabar datang, aku terisak lemas. Entah mana yang perlu kuselamatkan, mental mama, fisik papa, atau harga diriku dihadapan keluarga suami, saat itu ibu mertuaku tengah bersama kami selepas aku lahiran. Semuanya hancur. Aku menangis. Mas memelukku, dia ikut menangis bersamaku....

Sebuah Pengakuan Dosa

 Malam ini selepas sibuk memasak di dapur sambil menahan rasa setengah kesal setengah jengkel ngeliat suami rebahan di kamar sibuk main hp, Aku memulai obrolan. Sambil menyodorkan piring berisi nasi panas, obrolan ini dibuka dengan kalimat,  "Aku mau cerita, tapi Mas harus dengerin dari awal sampai akhir" "Iya" Sahutnya seraya menyuap nasi. Lalu dimulailah proses penumpahan uneg-uneg atau mungkin sebuah pengakuan dosa (?) seorang Istri yang merasa bersalah karena pernah membandingkan suami nya dengan laki-laki diluar sana. "Kadang beberapa kali aku sedih deh Mas. Ngeliat suami orang lain, kok yo bisa so sweet gitu ke istrinya ya.. Eh Mas juga sweet sih ke Aku. Cuma beda nya, kok yo bisa suami orang lain tuh sweet nya ditunjukkan secara langsung gitu loh. Ndak malu-malu." "Nih ya tadi, bu Civa sakit pinggang nya. Ya sebenernya wajar ajasih ibu hamil gede sakit pinggang punggung gitu kan, tapi suami nya dengan lembut usap-usap punggung sama pinggangnya ...

Sembunyi

Setelah melewati berbulan-bulan tanpa meninggalkan kabar, nyatanya aku kembali pulang. Setelah terlalu banyak terluka, terlalu rapuh, dan remuk segala, aku kembali. Entah engkau yang terlalu baik bak malaikat, atau memang sedari awal tak benar-benar peduli datang dan pergi ku, Kau selalu ada. Pintu ini senantiasa tak terkunci. Dari beberapa hal yang menghampiri, mungkin ini salah satu yang patut disyukuri. Setidaknya aku tampak lebih baik dari sebagian mereka yang tak punya tempat kembali. Jauh di dalam sanubari, aku rasa kau bukan hanya tempat kembali. Tapi tempat bersembunyi ketika seluruh dunia memojokkan, menikam dan menghunus tatapan tak menyenangkan. Kau adalah tempat persembunyian yang tak menawarkan apa-apa. Takpula perlindungan, meski ku rasa semua orang yang bersembunyi nyatanya membutuhkan itu. Sedang Kau, tidak. Kau hanya memberi ruang. Tak luas, untukku diam sejenak. Mencerna banyak hal satu persatu. Mendinginkan dan mengendapkan banyak rasa agar terkubur jauh di dasar...