Langsung ke konten utama

Future (2) atau hope to be my future.

Dear, You
Agak aneh menuliskan surat di laman ini untuk mu. Seseorang yang belakangan sibuk bertanya. Adakah yang tengah mendekat? Adakah seseorang yang menarik hati?

Nah kabar baiknya, aku akan tetap menulis. Khawatir saja, barangkali tulisan-tulisan pendahulu begitu ambigu hingga kamu salah arti.

Aku tentu, sudah mengatakan lelah dengan komitmen main-main. Akan dengan senang hati jika berkomitmen selanjutnya dengan seseorang yang bermula dengan penentuan hari baik. Tapi bukan berarti aku sudah siap fitting baju bulan depan! Aku tentu punya banyak list yang ingin dituntaskan dan punya perencanaan tentang hari baik yang aku inginkan. Meski pada akhirnya memasrahkan diri pada kuasa Pencipta, setidaknya tak putus harap. Aku sungguh, menikmati banyak hal tanpa perlu didampingi dengan komitmen singkat saat ini. Ada di lingkungan yang dinamis, tugas-tugas dari dosen terhormat, berantem-berantem kecil dengan teman-teman sepermainan dan menceramahi monster kecil sudah lebih dari cukup memenuhi banyak ruang di hati. Sungguh bahagia saat aku bisa menjadi diriku sendiri dan bebas mengekspresikan apapun yang aku pikirkan. Maka, tak perlu lah repot-repot bersusah payah memikirkan waktu sesingkat-singkatnya memperoleh komitmen dari aku.

Aku percaya pada kalimat Jodoh ditangan Tuhan,
dan tentu aku setuju dengan kalimat seterusnya, Jika jodoh tidak dijemput maka tentu Ia akan tetap duduk manis di tangan Tuhan.
Manis sekali, dua kalimat itu. Saling mendukung. Nah dengarkan, jika kamu bertanya apakah aku akan siap jika kamu melakukan hal paling ekstrem? Datang menemui Mama-Papa dan turut serta membawa Ayah-Ibu mu kerumahku dalam waktu dekat, misalnya? Atau tiba-tiba muncul dengan sebuket mawar dan cincin di depan kamar ku bulan depan, misalnya?
Maka, jawaban nya adalah, itu bukanlah pertanyaan yang tepat untuk kamu tanyakan. Aku akan terus berusaha memperbaiki dan mempersiapkan diri. Terus belajar menjadi perempuan yang baik dan calon Ibu yang pintar. Aku akan terus mengusahakan itu. Permasalahannya adalah, aku belum memberikan kesempatan pada siapapun untuk meyakinkan aku. Maka, seekstrem apapun cara yang kamu lakukan saat ini, besar kemungkinan tidak membuahkan hasil apa-apa, karena aku belum mengizinkan siapapun untuk meyakinkan hatiku. Lalu jika selanjutnya kamu bertanya kapan aku akan mulai membuka hati, jawabannya adalah : Aku tidak tau. Barangkali suatu hari nanti kamu atau ada seseorang lainnya yang berhasil merobohkan keangkuhanku , atau bisa jadi juga tidak. Tenang saja, aku belum akan bosan untuk mengingatkan dua hal ini, pertama, Kalau jodoh pasti ketemu, kedua, Belum terlambat kalau mau mundur sekarang (fyi, aku belum melihat tanda-tanda akan menjadi perempuan manis loh)

Lalu kamu bertanya, dengan cara apa agar bisa membuatku yakin?
Untuk pertanyaan itu, barangkali kamu ingin jawaban paling akurat, tanyakan saja langsung pada Sang pembolak-balik hati. Tapi kalau kekeuh ingin tau jawaban sinis ku: Itu sih urusanmu!

Dan terakhir, Semangat ya! 
Tidak ada satu hal pun yang akan sia-sia. 😉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...