Langsung ke konten utama

sepucuk surat dari Bulan

Dear Siang penjaga Laut penghias purnama,
aku jarang sekali peduli berapa mil jarak memisahkan dua titik diantara kita. Atau berapa jam selang waktu menjauhkan kita. Atau seberapa terbalik kebiasaan tidur dan aktifitas kita. Yang aku coba pahami adalah, kita terikat dan saling mengikatkan diri pada satu komitmen, saling percaya dan menjaga. 
Ketika dihadapkan pada keadaan yang memburuk, dan terjebak oleh setiap batasan, aku percaya kita --masing-masing-- lebih dari sekedar cukup untuk mampu bertahan dan menyelesaikan persoalan demi persoalan. Apakah yang masih membuatmu khawatir kalaulah sudah aku pastikan untaian kalimat-kalimat pengharapan dan doa selalu mensejajari langkahmu?
Lekaslah, masuk dalam peraduan. Tidur ditimang tetes hujan, yang kataku, mutiara cinta dari surga. Lepaskan sejenak setiap kalkulasi matriks rencana, tugas-tugas terbengkalai atau orang-orang yang terlalu sering merecoki waktu damai diatas dentang 12malam. Saatnya tiba, untukmu berbaring penuh kepasrahan, memberi jeda pada setiap gurat pembuluh kehidupan yang memberi nyawa. Semoga setelahnya kamu bangun dengan materi yang baru. Bergegaslah, berhenti membuat aku risau dan sibuk mengkhawatirkan. Bukankah kita, sama-sama tidak berdaya saat sakit dan jauh?
Untukmu, siang penjaga laut penghias purnama, ambillah jeda ini sejenak.


khawatir,
Bulan-mu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Email, pagi ini.

Dear Mr. Manager Good morning Setelah menimbang dan berfikir berulang kali, saya minta maaf. I just feel so drained that i don't have energy to fill this paper. To stand by myself, for explained what i did. I feel like i lost myself at this point. I am sorry but on serious note, typing this email with teary eyes. ...

Birthday Blues

Untuk diri yang mencintai kata-kata, hidup diantara yang tidak mampu membaca adalah sebuah kesialan yang menjadi candu. Kamu tau itu menyesakkan, tapi kamu selalu suka menantang diri sendiri sambil bilang, 'i can handle this'. Mengutip sebuah judul lagu minang yang gak sengaja mengalun saat menuliskan ini, "Kadang antahlah tapi baalah" Sekali waktu ada momen lelah banget. Banyak kalimat-kalimat sudah dituliskan tapi kemudian urung diungkapkan. Belum dirilis saja, sudah terbayang reaksi dari orang-orang yang tak mampu membaca. 'Jangan curhat di sosmed, gak baik' 'Jangan cengeng, mengeluh tidak membuat semua jadi selesai' 'Apasih lebay banget. Gitu aja sedih' 'Banyak yang lebih susah dari itu' Lalu akhirnya kalimat-kalimat jadi terpangkas. Kata-kata mulai banyak yang hilang. Lalu lagu Minang lainnya yang tengah mengalun di akhir tulisan ini, 'Mandi ka lubuak mandalian Udang disangko tali tali Mabuak untuang jo parasaian Patang disangk...

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darah...