Langsung ke konten utama

Sayang

G
aku harus menulis, sayang 
karena ada banyak yang ingin diungkapkan --yang tak kunjung cukup waktu untuk kusampaikan-- 
karena ada banyak yang tak bisa aku tanyakan --oleh sebab tak cukup berani kukatakan-- 
tenang, tenanglah, sayang
aku tidak akan menanyakan dan tidak ingin menanyakan, ketika Kau datang,
dari mana saja Kau hari ini, kemarin, dan sebelum kemarin
karena aku pun tidak ingin tau.
tak pula ingin bertanya atas sebab apa Kau datang dan memutarkan musik,
lantas melenggang pergi
meninggalkan aku diantara dua cangkir latteseperti yang Kau lakukan terkahir kali
aku tidak peduli.
izinkan aku menulis, sayang
menulis sebait puisi, yang lantas kuhapus kembali.
lalu menulis sebaris lagi
tapi yang terukir hanya kalimat yang sama
tak juga mampu mewakili. 
aku lah patung, sayang.
yang kau tikam berulang, dengan pisau yang sama, di tempat yang sama.
luka nya sama, sakit perihnya pun sama.
hingga akhirnya aku hilang rasa. 
malam ini aku tak lagi puitis, sayang
sejak aku lupa bagaimana rasanya
menulis apa yang tak kau baca. 
jangan bosan, sayang.
14 April 2014, 00:02
sebenarnya ada satu bait monolog ini yang tidak aku tuliskan.
bercerita tentang mengapa aku tidak pernah menyalahkan
berkisah tentang sebuah pujian. Ah, aku terlalu malu untuk menuliskannya
kembali. Betapa tidak adil nya aku? Hh, Kau bisa mencarinya di tumpukan
tumblr. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah kado

baru pulang nganterin biank -my blue notebook- ke customer service nya di gatsu tadi. ditemenin sama murobbiah yang baik hati. nyampe dikosan langsung mendadak mellow. belum berapa jam, kosan udah jadi sepi bangeet tanpa biank , ini aja ngeblog pake laptop nya Geu :'( selama seminggu gabisa liat biank, gabisa nonton, gabisa donlod running man dan barefoot friends, gabisa denger playlist gabisa ngerjain paper opa dan gabisa gabisa lainnya. sedih banget, tapi gapapa demi kesehatan biank kedepannya. really miss my lovely biank {} .  kado tampak depan tadi murobbiah yang baik hati ngasih kado ulangtahun, yang udah disiapin lebih dari sebulan yang lalu. tapi karena kitanya jarang banget ketemu akhir akhir ini jadi kado manis itu belum sempat berpindah tangan. dan kado nya lucuuu, jadi sedihh *loh* kertas kado nya sampe udah lecek banget saking udah lama nya tergeletak pasrah di mobil. tapi tentu ga ngurangin esensi ukhuwahnya dan absolutely esensi isi kadonya, tetep cantiik. yip

ala Chef

Hi! Akhirnya update blog lagi. Btw, hari ini masak. Yah biasa sih, kalau dirumah emang harus masak sendiri, karena Mama kerja, pulangnya baru sore, jadi kalau mau makan sesuatu yang masih anget ya masak sendiri. Nanti z ceritain masak apa hari ini. jari luka Tadi waktu masak ada drama! darah di cangkang telor Jadi tadi mau motong jeruk nipis, karena masaknya di toko dan gak ada talenan (alas buat motong) jadi sok-sok an motong sambil megang jeruk nipisnya, terus yah alih-alih motong jeruk nipis malah motong jari telunjuk ^^ Langsung berdarah. Sebenernya luka nya gak begitu dalam, tapi Z  biasanya kalau luka, darahnya susah berhenti. Padahal papa udah bilang, motongnya di meja aja, dialas pakai plastik. Nanti luka jarinya. Dan kejadian. Karena malu, meskipun perih langsung ditutup pakai tissue. Masih sok-sok an gamau bilang, udah ngabisin dua tissue penuh darah segar dan darahnya sampai tumpah ke cangkang telor, terus dialirin air yang banyak banget, tetep aja darahnya

Zia, pekerjaan dan teman.

Tampaknya satu-satunya alasan Zia masih bersosialisasi dan berhubungan dengan orang-orang ditempat kerja adalah bu Siska. Karena masih ada bu Siska. Karena masih punya tempat kembali untuk berkeluh kesah atau sekedar membahas kejadian bersama orang-orang diluar sana. Karena masih ada sosok yang setipikal dan sama, maka apapun yang kita bahas akan mendatangkan pemahaman yang sama tanpa perlu effort lebih untuk menjelaskan terlalu detail. Atau dalam bahasa singkatnya : hubungan mode hemat energi. Jadi bukan masalah besar harus menghadapi orang-orang diluar sana karena toh masih ada tempat untuk recharge energi karena rasa lelah setelahnya. Namun tentu perasaan yakin yang aku tulis diatas baru terasa saat sampai waktunya kita berpisah. Terdengar egois karena seperti Zia kehilangan tempat recharge energi nya, terbaca seperti ini hanya rasa sedih sepihak yang dipaksakan. Entah apa bu Sis merasakan hal yang sama. Semoga apapun yang terjadi diluar sana akan menjadi hal-hal baik untuk bu Sis d